Menjelang UN
Saat ini anak saya kelas tiga SMP tengah menyiapkan diri untuk menghadapi UN. Sekolah yang dikemas dalam model full days school ternyata juga tetap memanfaatkan hari Sabtu untuk melakukan serangkaian Try Out. Saya tidak akan membahas issue tentang jadi tidaknya UN, sebab itu akan menjadi pembahasan tersendiri.
Kali ini saya akan bercerita tentang bagaimana suasana menjelang UN. Sabtu yang lalu sekolah anak saya mengumpulkan seluruh orangtua kelas tiga untuk memberikan masukan tentang proses UN yang akan dijalankan di sekolah itu. Senang juga saya, sebab pada semester ini wali kelas anak saya cukup komunikatif. Sarana sms digunakan untuk mengingatkan dan memberitahukan kegiatan siswa didik, sehingga komunikasi orangtua dan wali kelas dapat terjalin dengan baik. Selesai pertemuan pada hari itu, saya kembali pada anak saya dan mendiskusikan rencana yang telah dibuat oleh sekolah. Tujuan saya membantu anak saya menyesuaikan kegiatan dan mempersiapkan mentalnya menghadapi UN. Sebab intensitas belajarnya mulai menaik. Tapi kamis lalu anak saya mengeluh, dia bilang " Aku gak mau masuk ah". " Memang kenapa dik ? " tanya saya. " Gurunya marah-marah melulu, kan kita sudah mengumpulkan PR, masak disuruh bikin PR lagi hanya karena saya salah menyerahkan PRnya ke guru lain. Stress kali mah gurunya .. " sautnya. Saya diam, lalu anak saya menegur, " Ma.. mama marah ? " " gak dik, bukan marah, mama hanya khawatir dan berempati dengan beban yang dipikul oleh para guru saat ini.".
Dalam kondisi apapun saat hasil pekerjaan kita akan dinilai, pastilah kita mengalami tekanan yang lebih berat. Coba saja, menjelang raker, para pimpinan perusahaan pasti berkerut nalar, dengan tensi nada bicara yang cenderung mudah naik satu oktaf. Demikian juga halnya dengan menjelang UN. Paling tidak ada empat unsur yang akan mengalami kenaikan adrenalin, yang pertama pasti guru, kedua siswa, ketiga orangtua dan lembaga sekolahnya itu sendiri. Dampak UN pertama kali akan dirasa oleh lembaga sekolah, sebab tingkat kelulusan dan standard pencapaian nilai menjadi salah satu penilaian. Nah,.. dari sinilah biasanya rambatan adrenalin akan menyebar ke para guru. Secara individu. ada dua penyebab naiknya adrenalin bagi seorang pengajar, pertama pengetahuan, jika seorang pengajar memiliki tingkat pengetahuan yang cukup untuk menghadapi tuntutan pengajaran maka satu masalah sebagai pemicu adrenalin bisa ditiadakan. Yang kedua, adalah pengendalian adrenalin yang disebabkan waktu, meski pengetahuan pengajar telah cukup, tenggat waktu menjadikannya harus menaikan speed. Semenetara kita tahu proses belajar tidaklah sama dengan sebuah proses mesin, yang dapat diseragamkan.
Kedua hal ini akan berdampak secara psikologis, emosi menjadi mudah tidak stabil, dan tanpa disadari terlepas dalam bentuk yang "tidak biasa". Marah, adalah salah satu indikator perilaku yang tidak biasa.Oleh sebab itu dibutuhkan suatu situasi dimana para guru juga diberi ruang untuk " melepaskan emosi " misalnya dengan istirahat sejenak. Asupan makanan juga perlu diperhatikan. saat adrenalin meningkat, maka hormon tubuhakan berubah. Rasa lapar atau kekurangan asupan positif akan berdampak juga sebagai pemicu rasa marah. Saran saya, bagi para pengajar perhatikan betul pola makan, dan istirahat. Hal yang sama juga menjadi perhatian bagi para siswa didik. Akhir kata, mulailah dengan sebuah keikhlasan, kesungguhan dan kemudian berserah diri. Bapak dan Ibu Guru yang dikasihi Allah swt. Terima kasih karena telah membimbing anakku menghadapi Ujian.
Kedua hal ini akan berdampak secara psikologis, emosi menjadi mudah tidak stabil, dan tanpa disadari terlepas dalam bentuk yang "tidak biasa". Marah, adalah salah satu indikator perilaku yang tidak biasa.Oleh sebab itu dibutuhkan suatu situasi dimana para guru juga diberi ruang untuk " melepaskan emosi " misalnya dengan istirahat sejenak. Asupan makanan juga perlu diperhatikan. saat adrenalin meningkat, maka hormon tubuhakan berubah. Rasa lapar atau kekurangan asupan positif akan berdampak juga sebagai pemicu rasa marah. Saran saya, bagi para pengajar perhatikan betul pola makan, dan istirahat. Hal yang sama juga menjadi perhatian bagi para siswa didik. Akhir kata, mulailah dengan sebuah keikhlasan, kesungguhan dan kemudian berserah diri. Bapak dan Ibu Guru yang dikasihi Allah swt. Terima kasih karena telah membimbing anakku menghadapi Ujian.
No comments:
Post a Comment