Sunday, November 29, 2009

Belajar menjadi penulis

Belajar menjadi penulis

Saat ini apa yang menjadi satu-satunya obsesi saya adalah menjadi penulis, suatu kegiatan yang sesungguhnya paling saya sukai, dan kata guru-guru saya dulu kemampuan saya mengarang cukup bisa diharapkan. Bahkan saat saya menulis makalah di kuliah misalnya, ada dosen yang bertanya pertama kali sesaat setelah beliau membaca makalah saya.” Apakah anda penulis ? “ saya jawab belum pak, menulis masih menjadi hobby saja. Sebab saya punya kebiasaan menulis diary setiap hari. Lalu dosen itu berkata “. Rasanya anda harus mencoba menekuni bidang penulisan, cara anda menulis bagus ”. Waah kata-kata yang datang dari seorang guru jelas berdampak besar bagi rasa percaya diri saya. Tapi toh itu masih saya simpan sebagai motivasi laten.

Entah apa yang ada di benak saya, keinginan untuk melakukan apa yang ada dalam diri saya mudah saya lakukan tetapi untuk mewujudkan keinginan menjadi penulis mengapa demikian susah. Misalnya saja, saat saya mengawali usaha sembako di teras rumah, modal awal saya hanya 5 kg gula pasir, teh celup, kopi dan satu dus mie instant, dan “ajaib” usaha itu berjalan, sehingga mampu saya andalkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Memang jenis usaha yang saya tekuni adalah usaha pemenuhan kebutuhan sehari-hari, kata orang bisnis yang mengandalkan pada kebutuhan dasar manusia pastilah lebih memungkinkan beroperasi dengan sangat baik. Bisnis ini berkembang hingga badai krisis ekonomi menghantam membuat harga menjadi tidak stabil.

Saya mengubah usaha, dengan menjajakan kosmetik dan berkeliling dari satu took-toko kelain, capek ya.. lelah ya.. tapi saya nikmat saja melakukkannya. Usaha ini berkembang ke usaha busana muslim, dua hari sepekan saya harus mengambil baju ke pasar grosir, kadang naik bis, naik kereta, atau kalau sedang ada yang mengantar ya pakai kendaraan pribadi. Capek ? ya… jelas. Tapi toh saya mampu menjalankannya dan menekuninya hingga saya bisa mengembangkannya menjadi sebuah butik. Tetapi tahukah anda ? bahwa disela-sela saya berbisnis, saya selalu menyediakan apa yang disebut dengan “NewsLetter”. Bermodal program publisher dalam Microsoft, saya membuat inhouse magazine ( dulu internet belum marak sebagai alat komunikasi pemasaran ). Saya bagikan sendiri Inhouse magazine kepada pelanggan, sambil tak lupa mengucapkan terima kasih atas kunjungan mereka, dan menanyakan apakah ada keluhan atau tidak, usaha saya cukup maju jka dilihat dari tingkat kepercayaan supplier yang hampir berjumlah 250 supplier. Kebanyakan mereka adalah ibu rumah tangga, atau home industri yang menitipkan bajunya di tempat usaha saya. Usaha ini tetap berjalan hingga saya harus memutuskan untuk pindah lokasi di sebuah Mall. Di mall saya tidak bisa meneruskan strategi butik, sebab bersaing ketat dengan produksi massal. Maka saya beralih ke produksi massal.

Apakah Obsesi saya menulis berhenti ? tidak, sangat tidak. Saya meminta sahabat saya Mas Iqbal untuk membimbing saya menuangkan gagasan karena saya ingin membuat sebuah buku. Berjalan dua sampai tiga kali pertemuan yang sebenarnya cukup intensif, program ini mandeg. Tetapi di kepala saya masih menari-nari. Kemudian pertemuan saya dengan Mbak Rita Zahara - penulis cerpen di kompas - yang juga membimbing saya untuk menuntaskan gagasan penulisan buku juga mandeg. Mas Suryana, teman baik mbak Rita, juga turut membantu, tetapi entah mengapa program belajar menjadi penulis belum juga mampu saya realisasikan.

Ketika sedang asyik membuka internet, saya membuka situs menulis online – smo – saya daftar untuk ikut yang free. Komunikasi berlanjut, say abaca motivasi dari bang Jonru…. Senang sekali karena saya merasa termotivasi kembali untuk mewujudkan obsesi saya menjadi penulis. Tetapi hingga hari ini saya belum benar-benar menjadi siswa Bang Jonru, masih di angan-angan satu waktu saya mau ikut pelatihannya. Kemudian saya melihat kesempatan ada lomba menulis untuk bisa dapat potongan biaya kursus, saya senang dan saya mulai membuat tulisan, tetapi terhenti karena ada pekerjaan yang tidak bisa saya tinggalkan. Saya sudah membaca prolog buku “ Cara Dahsyat menjadi penulis Hebat “ dan itu luar biasa. Saya sudah menyisipkan cover bukunya di Blog saya dan menyisipkan alamat situs menulis online group. Meski saya tahu terlambat dalam mengirimlkan naskah ini, dan mungkin dianulir untuk bisa mendapat diskon saat ini. Saya tetap akan mengirimkan naskah ini, paling tidak inilah upaya saya untuk belajar menjadi penulis.

Saya jadi berfikir, belajar menjadi penulis, sama dengan belajar jadi pengusaha, belajar jadi perenang. Mau jadi penulis ya nulis.... mau jadi pengusaha.... ya usaha. Mau jadi perenang ya berenang... Jadi saya sekarang nulis aja ya.... begitu anjuran di buku Cara Dahsyat menjadi penulis hebat.

Selamat Menulis... menulis itu nikmat.

No comments: