Satu hari anak saya mengeluh " Ma besok aku gak mau sekolah ! dengan wajah yang demikian kesal. " Waah memangnya kenapa nak? jawab saya spontan. Disekolah temanku ada yang nakal... " Mm begitu ya. "Boleh saja nak, kamu tidak sekolah, tapi coba pikirkan jika kamu tidak sekolah hanya karena takut, sementara temanmu yang nakal justru masuk dan belajar disekolah. Kira-kira siapa ya yang akan menjadi lebih pintar ? " Temanku ", jawabnya spontan. Lalu.... apa kamu mau temanmu menjadi lebih pandai?. " Tidak ". Jawabnya spontan lagi. "Tapi temanku itu nakal sekali, aku dipukulnya". sambungnya. Sebenarnya yang kamu rasakan itu adalah rasa takut, boleh takut tetapi jangan berlebihan nak. Untuk sesuatu yang kamu anggap kamu tidak salah, kamu tidak boleh takut. Bahkan ketika kamu melakukan kesalahan sekalipun kamu masih harus punya keberanian untuk meminta maaf dan memperbaiki kesalahan.
"jadi aku harus bagaimana?" mata polos menatap wajahku... " Anak pintar, jangan mengorbankan yang baik hanya untuk sekedar menghindar dari masalah". Katakan saja pada temanmu, bahwa " aku tidak mau dipukul, dengan tegas dan berani ". " Aku takuut..". " Cobalah dulu, kamu belum mencobanya kan ?. Begini, besok datang saja ke sekolah, dan jika temanmu masih nakal, katakan " aku tidak mau dipukul, sakit, dan aku tidak suka dipukul". Lalu kita lihat apa jadinya besok ya... " "iya " jawabnya.
Tiga hari berlalu, anakku tak lagi mengeliuh, tapi aku ingin tahu bagaimana dia menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan masukan dariku, berhasilkah ? Malam menjelang tidur kutanyakan pada anakku. " Nak, bagaimana tentang temanmu yang memukul itu ?". Ooo iya.. aku lupa cerita". " Waktu di memukulku, aku bilang, "Sakit, aku tidak mau dipukul". Eeh temanku tiba-tiba diam. Aku jadi kasihan.... Jadi... temanmu tidak memukul lagi. "Tidak, dan sekarang kami berteman ". Setiap dia mau pukul aku, aku bilang aku tidak mau dipukul.
Aku tidak tahu, apakah diskusiku dengan anakku memang berdampak demikian, atau sesungguhnya setiap anak punya potensi keberanian, hanya mereka belum dapat menempatkan kapan potensi itu berhasil guna... Bagiku paling tidak anakku mampu mengenali kemampuannya untuk menolak kedzaliman, tanpa harus merusak silaturahim.
Paling tidak anakku bisa mempertahankan dirinya di tengah lingkungan yang tak bisa dikendalikan.
No comments:
Post a Comment