Monday, February 6, 2012

Bersyukur

Tahun telah berganti, sering kita merenungi kehidupan yang telah kita lalui, apa yang telah kita raih, apa yang telah kita dapat. Ada orang yang telah melalui masa jayanya, sambil tersenyum dia mencoba mengingat kembali masa indah, dimana dia bisa mendapatkan apa yang diiinginkannya. Jabatan dengan segala fasilitas, dan kewenangan.Ditengah senyumnya yang bahagia, tiba-tiba wajahnya tertunduk, dan setetes air berlinang diujung matanya. Katanya " Ah.. andai dulu aku tidak melakukannya". mungkin saat ini aku masih bisa duduk disana. Melakukan sesuatu yang salah sering baru disesali setelah lama berselang, dan menimbulkan akibat yang dalam. Terjungkal dari jabatan, hilang fasilitas dan kewenangan. Lalu hanya kenangan semasa yang tertinggal. Di lain tempat, masih saja ada orang yang memimpikan untuk dapat tinggal di tempat yang layak, sambil tersenyum membayangkan betapa enaknya tinggal di tempat yang layak, memiliki jabatan, fasilitas dan kewenangan. Tetapi mereka tidak menyadari bahwa episode kehidupan sangat mungkin berganti dalam hitungan detik. Yang satu keluar dari penjara dunia, yang lain masuk penjara dunia. Yang satu masuk istana dunia, yang lain keluar istana dunia. Banyak pula yang mengira mereka tengah mengecap istana dunia, padahal sesungguhnya mereka tengah berada dalam penjara akhirat. Sebaliknya yang lain merasa terpenjara, padahal sesungguhnya mereka sedang dalam istana akhirat. Manusia dilahirkan sempurna, pilihan hidupnya yang menentukan kesempurnaan akhir.

Tahun telah berganti, dan banyak orang meluangkan waktu untuk sekedar menyusuri apa yang telah dilakukannya, seberapa banyak yang bisa dilakukan dan untuk siapa dia melakukannya. Jika kita telusuri setiap orang yang memiliki kelebihan untuk berbuat pasti juga akan memiliki sejumlah tantangan. Penutup akhir tahun memberikan kita sebuah perenungan yang mendalam. Lepas dari pro dan kontra - hadirnya seorang tokoh KH Abdurahman Wahid - seolah mengingatkan kita tentang apa yang telah mampu kita lakukan dalam hidup untuk banyak orang. Semakin banyak yang merasakan semakin banyak yang kehilangan. Lalu kita perlu juga bertanya ... kelak jika kita kembali kepada Allah swt. Siapakah yang kehilangan kita ? siapa sajakah yang merindukan kita ? .... Apa yang sudah kita perbuat ? jangan-jangan kita masih sebatas memikirkan diri kita sendiri saja ....

Terima kasih

Tulisan ini ku haturkan dengan penuh kasih sayang untuk Almarhum ayahanda Muhammad Tabrani yang telah berpulang tahun 1984. Untuk Almarhumah Ibundaku Siti Sumini yang berpulang tahun 2011 bulan juni lalu. Puji syukur ke hadirat Allah swt yang hingga hari ini aku masih dapat mensyukuri segala nikmat yang telah Allah berikan. Mmmm tidak mudah menuliskan apa yang kurasa, apa yang ada di dalam dada ini. Satu helaan nafas, untuk mengingat episode masa kecil tanpa membuatku menangis. Di mataku Ayahlah sosok yang paling lekat dan menyatu dengan jiwaku. Tokoh idola yang tidak dapat tersubtitusi oleh munculnya tokoh lain dalam episode kehidupanku kemudian.

Hari Ibu

Anakku ini Ibu yang menulis, untukmu. Anakku sayang memang betul hari ini adalah Hari Ibu. Ibu sudah terima ucapanmu melalui smsmu. Terima kasih ya nak, atas semua yang telah kau lalui dan kita lalui. Maafkan Ibu, karena tidak semua yang Ibu lakukan sempurna. Tidak semua harapanmu bisa Ibu kabulkan. Kadang betapa kerasnya Ibu mendidikmu, sulit menjelaskan padamu bahwa untuk dapat mempertahankan hidup dengan baik, kamu harus punya mental yang tangguh.
Satu-satu Ibu ajarkan kamu apa itu jujur, pernah kamu bertanya " Ma..tanggungjawab itu apa sih ?" Sementara usiamu masih 5th. Ibu harus ajarkan itu semua dengan aplikasi harian, membereskan mainan sendiri, meletakkan tas dan sepatu pada tempatnya sepulang sekolah, membawa piring dan gelas kotor setelah makan.... Itu bagian dari tanggungjawab. Nak, kelak semakin dewasa bentuk tanggungjawab juga akan bergerak naik, dengan bobot dan kompleksitas yang rumit. Kamu akan tanggungjawab terhadap anakmu, suamimu atau istrimu, masyarakat, dan jika kamu bekerja kamu akan bertanggungjawab atas kesejahteraan karyawanmu, dan keuntungan untuk atasanmu. Nak ini baru satu nilai moral yang bisa Ibu ajarkan, masih banyak nilai moral lain yang akan kamu pelajari sepanjang hidupmu. Ke arifan, ke bijaksanaan, ke tegasan, ke adilan... Duuh nak, apa umur Ibu cukup untuk mengajarkan ini semua pada mu ?. Maafkan Ibu jika dalam waktu yang sempit Ibu selalu mengajarkan banyak hal, sedikit memaksamu untuk cepat paham. Duuh nak.. Ibu hanya khawatir tidak cukup membekalimu dengan kebaikan, karena Ibu pun harus bertanggungjawab pada Allah swt atas apa yang sudah Ibu berikan padamu. Nak, kelak jika ibu sudah tertatih menuju tempat wudhu, bantu Ibu ya mengambil air wudhu, jika Ibu sudah letih untuk duduk lama mengaji, bantu Ibu mengajilah di sebelah Ibu. Jangan tinggalkan Ibu sendirian ya ? Carilah pasangan hidup yang juga mau menyayangi Ibunya, agar baktimu dan baktinya terjaga.Susah lho nak mengurus Ibu di saat sudah tua dan sakit2.Ibu selalu berdoa semoga di hari tua Ibu tidak merepotkanmu. Karena kamu pasti juga repot dengan urusanmu dan keluargamu. Doakan Ibu sehat ya nak...Setiap hari tolong maafkan Ibu, agar kelak ada sinar yang menerangi jalan Ibu disana. Terima kasih nak atas kesabaran dan ke iklasanmu menerima didikan Ibu.Jika ada kesalahan dalam mendidikmu itulah keterbatasan Ilmu Ibu. Didiklah anakmu lebih baik dari Ibu mendidikmu.. Semoga Allah menuntunmu menjadi anak yang soleh dan sholehah. Anakku, meski aku saat ini seorang Ibu, aku adalah seorang anak pula dari Ibuku.  Pesanku  untuk para Ayah dan Suami, sayangi istrimu karena dia adalah Ibu dari anak-anakmu, lindungi dan berlaku baiklah pada  anak perempuanmu, karena kelak ia adalah calon Ibu yang Mulia bagi cucu-cucumu...

Pedih

Pediiih..... Rasa itu menyeruak kembali, meski seringkali hilang.  Tapi Kupikir kepedihan itu sebenarnya tak pernah hilang begitu saja.Hanya dia akan timbul dan tenggelam sesuai apa yang kita alami. Sama saja dengan rasa bahagia, kadang muncul kadang tenggelam. Tetapi kepedihan yang kualami ini sebuah kepedihan yang senantiasa teriris penuh dengan akumulasi kekecewaan. Aku tahu  kehidupan tak selamanya enak, tapi sebagai seorang anak yang dilahirkan dilingkungan berada tak mudah sesungguhnya untuk bisa hidup sederhana. Ukuran kesederhanaannya pun pasti akan berbeda dengan ukuran sederhana dari kalangan yang sungguh-sungguh sederhana. Kepedihan ini bukan semata-mata dilihat dari financial tapi lebih pada hilangnya kasih sayang, perhatian dan kemanjaan. Aku merasakan itu sejak aku kecil, ayahku tak pernah membolehkan aku menangis apapun penyebabnya. Meski ayah juga tidak memberi sesuatu yang berlebihan, tapi aku merasakan benar kasih sayang seorang ayah, aku merasakan benar perhatian ayah, aku merasakan benar ayah menuntunku untuk berfikir besar dan berjiwa besar melalui perilakunya sehari-hari. Ayahku melarang untuk marah atau bersuara keras, kata ayahku suaramu cermin pribadimu. Ayahku selalu menunjukkan kelembutan dan ketegasan. Ayahku menunjukkan  keistiqomahan dan kejujuran dalam setiap perilakunya. Ayah juga mengajarkan berlaku adil, jika musim buah tiba maka ayah akan memborong dua pikul Duren, atau Mangga, atau Duku apa saja yang sedang musim pada saat itu. Kami semua dipanggil satu-satu dan diberi jatah, tidak boleh ada yang tidak kebagian dalam satu rumah. Prinsip Ayah, semua punya hak yang sama untuk memperoleh rezki. Kata ayahku kekayaan bukan terletak pada banyaknya harta yang kita miliki, tetapi seberapa banyak kita mau berbagi. Misal saja jika kita punya uang sepuluh juta, mungkin mudah mengeluarkan seratus sampai lima ratus ribu. Tetapi jika uang kita terbatas, maka kita cenderung semakin berhitung untuk mengeluarkannya. Kekikiran akan membuat sakit jiwa dan pikiran. Karena pikiran jadi sempit dan dunia terasa menghimpit. Jika ada yang meminta pada kita tersenyumlah, itu tanda bahwa kita sedang diberi amanah untuk punya kesempatan menolong dan memudahkan kesulitan orang lain. Jangan biarkan orang lain menjadi pengemis, meminta pada kita. Ulurkan tangan kita sebelum mereka menadahkan tangan. Siapa yang memuliakan orang lain, dia akan dimuliakan oleh Allah swt.  Jadilah tempat dimana banyak orang bisa bernaung, maka kau akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa melebihi harta yang kau miliki. Ternyata kepedihanku adalah kepedihan dimana aku sering melihat dan merasakan kepedihan orang lain, tetapi aku sendiri tak punya daya untuk menolongnya. Pediih ketika melihat orang menderita, pediih ketika melihat orang dalam puncak kemarahan karena frustasi, depresi dan stress. Pediih ketika melihat anak menangis sendu, karena tak punya baju baru di hari lebaran. Pediih melihat anak yang patuh karena kecintaannya pada orangtua. Pediih melihat istri yang sabar menerima iklas kehidupannya yang sederhana. Pediih melihat keruntuhan rumah tangga. Pedih jika ada tetangga yang tersakiti. Dan ini kepedihan yang setiap hari harus kusaksikan, di jalan, di kehidupan ini. Barangkali Rasul juga punya kepedihan ini, jika mengingat betapa ummatnya akan disiksa kelak jika mereka tidak mengindahkan ajaranNya.  Dadaku sesak, merasakan kepedihan ini, gabungan kesedihan,duka dan kekecewaan. Antara harapan dan kenyataan, antara keinginan dan yang didapat, antara kemampuan dan kemauan. Pediiih.... dalam ketidakberdayaan. Kulantunkan saja asma-ul husna berharap mendapat obat untuk mengurangi kepedihan ini. karena rasanya bagai disayat sembilu, pediih, ngilu... dan menyesakkan. Semoga saja kau beri aku penguat hati, agar kepedihan ini tak membuatku menjadi lemah tetapi justru sebaliknya menjadi kuat. Jika orang tak pernah merasakan kepedihan ini, masih kah dia punya hati ???....