Seringkali Ilham datang tanpa diundang, tak mungkin terulang sebab itu adalah karunia Allah SWT.
Monday, February 6, 2012
Pedih
Pediiih..... Rasa itu menyeruak kembali, meski seringkali hilang. Tapi Kupikir kepedihan itu sebenarnya tak pernah hilang begitu saja.Hanya dia akan timbul dan tenggelam sesuai apa yang kita alami. Sama saja dengan rasa bahagia, kadang muncul kadang tenggelam. Tetapi kepedihan yang kualami ini sebuah kepedihan yang senantiasa teriris penuh dengan akumulasi kekecewaan. Aku tahu kehidupan tak selamanya enak, tapi sebagai seorang anak yang dilahirkan dilingkungan berada tak mudah sesungguhnya untuk bisa hidup sederhana. Ukuran kesederhanaannya pun pasti akan berbeda dengan ukuran sederhana dari kalangan yang sungguh-sungguh sederhana. Kepedihan ini bukan semata-mata dilihat dari financial tapi lebih pada hilangnya kasih sayang, perhatian dan kemanjaan. Aku merasakan itu sejak aku kecil, ayahku tak pernah membolehkan aku menangis apapun penyebabnya. Meski ayah juga tidak memberi sesuatu yang berlebihan, tapi aku merasakan benar kasih sayang seorang ayah, aku merasakan benar perhatian ayah, aku merasakan benar ayah menuntunku untuk berfikir besar dan berjiwa besar melalui perilakunya sehari-hari. Ayahku melarang untuk marah atau bersuara keras, kata ayahku suaramu cermin pribadimu. Ayahku selalu menunjukkan kelembutan dan ketegasan. Ayahku menunjukkan keistiqomahan dan kejujuran dalam setiap perilakunya. Ayah juga mengajarkan berlaku adil, jika musim buah tiba maka ayah akan memborong dua pikul Duren, atau Mangga, atau Duku apa saja yang sedang musim pada saat itu. Kami semua dipanggil satu-satu dan diberi jatah, tidak boleh ada yang tidak kebagian dalam satu rumah. Prinsip Ayah, semua punya hak yang sama untuk memperoleh rezki. Kata ayahku kekayaan bukan terletak pada banyaknya harta yang kita miliki, tetapi seberapa banyak kita mau berbagi. Misal saja jika kita punya uang sepuluh juta, mungkin mudah mengeluarkan seratus sampai lima ratus ribu. Tetapi jika uang kita terbatas, maka kita cenderung semakin berhitung untuk mengeluarkannya. Kekikiran akan membuat sakit jiwa dan pikiran. Karena pikiran jadi sempit dan dunia terasa menghimpit. Jika ada yang meminta pada kita tersenyumlah, itu tanda bahwa kita sedang diberi amanah untuk punya kesempatan menolong dan memudahkan kesulitan orang lain. Jangan biarkan orang lain menjadi pengemis, meminta pada kita. Ulurkan tangan kita sebelum mereka menadahkan tangan. Siapa yang memuliakan orang lain, dia akan dimuliakan oleh Allah swt. Jadilah tempat dimana banyak orang bisa bernaung, maka kau akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa melebihi harta yang kau miliki. Ternyata kepedihanku adalah kepedihan dimana aku sering melihat dan merasakan kepedihan orang lain, tetapi aku sendiri tak punya daya untuk menolongnya. Pediih ketika melihat orang menderita, pediih ketika melihat orang dalam puncak kemarahan karena frustasi, depresi dan stress. Pediih ketika melihat anak menangis sendu, karena tak punya baju baru di hari lebaran. Pediih melihat anak yang patuh karena kecintaannya pada orangtua. Pediih melihat istri yang sabar menerima iklas kehidupannya yang sederhana. Pediih melihat keruntuhan rumah tangga. Pedih jika ada tetangga yang tersakiti. Dan ini kepedihan yang setiap hari harus kusaksikan, di jalan, di kehidupan ini. Barangkali Rasul juga punya kepedihan ini, jika mengingat betapa ummatnya akan disiksa kelak jika mereka tidak mengindahkan ajaranNya. Dadaku sesak, merasakan kepedihan ini, gabungan kesedihan,duka dan kekecewaan. Antara harapan dan kenyataan, antara keinginan dan yang didapat, antara kemampuan dan kemauan. Pediiih.... dalam ketidakberdayaan. Kulantunkan saja asma-ul husna berharap mendapat obat untuk mengurangi kepedihan ini. karena rasanya bagai disayat sembilu, pediih, ngilu... dan menyesakkan. Semoga saja kau beri aku penguat hati, agar kepedihan ini tak membuatku menjadi lemah tetapi justru sebaliknya menjadi kuat. Jika orang tak pernah merasakan kepedihan ini, masih kah dia punya hati ???....
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment