Monday, November 16, 2009

Jika kepastian kebenaran menghilang

Jika kepastian kebenaran menghilang...

Agak ngeri saya sebetulnya untuk menulis ini, sebab apa yang akan saya uraikan ini masih hangat menjadi pembicaraan. Meskipun sudut pandang yang hendak saya tuangkan agak berbeda, tetapi karena kasusnya sangat populer maka saya meminta izin untuk menggunakan kasus ini hanya sebagai ilustrasi semata.

Berita KPK, Kejaksaan, dan Kepolisian, hingga saat ini masih terus bergulir. Para pengamat komunikasi, komunikasi politik, pelaku politik, pengamat hukum, pelaku hukum rasanya sudah banyak bicara, tentu saja masing-masing dengan sudut pandang "keilmuan"nya dan sudut "keilmiahannya". Dari sudut ke ilmuan maka kebenaran akan merujuk pada benar secara ilmu. Dari sudut keilmiahan maka kebenaran akan merujuk pada kriteria ilmiah.


Misalnya saja, pakar komunikasi akan mengatakan bahwa " opini publik yang negatif akan mempengaruhi citra pemerintah ". Sementara sudut pandang lain akan mengatakan " tidaklah semudah itu sebuah masalah sampai bisa menghancurkan sebuah kepercayaan". Sudut pandang yang lain akan mengatakan " kebenaran harus diperjuangkan". Duuh masalah jadi semakin rumit. Saya melihat ada dua masalah yang dapat diambil ibrahnya, pertama masalah kepemimpinan, dan kedua masalah kepastian dan kebenaran.

Saya jadi terpikirkan untuk mengilustrasikan kemampuan kepemimpinan Nabi Muhammad dalam menghadapi konflik saat para pemimpin suku di tanah arab pada waktu itu hendak mengembalikan Hajar Aswad pada tempatnya. Ketika Rasul kemudian datang, beliau membentangkan sorbannya, dan mengangkat hajar aswad , meletakkan diatasnya. Dan meminta setiap petinggi suku untuk memegang pucuk sorban, dan bersama-sama mengangkat hajar aswad untuk diletakkan pada tempatnya. Saya tidak tahu apakah ada ulama yang telah menafsirkan ini, atau menjelaskan makna ini. Tetapi saya melihat dari segi kepemimpinan Rasul sebagai pemimpin membantu untuk mencarikan jalan keluar, menolong meletakkan masalah pada tempatnya dan mendorong pengambilan keputusan yang elegan, dimana para petinggi tidak kehilangan muka dan wibawa diantara sesama.

Kedua masalah yang amat mendasar adalah, kepastian kebenaran. Pakar komunikasi dan pelaku politik yang mencium adanya " krisis manajemen" yang bisa mengarah pada jatuhnya sebuah kepemimpinan disebabkan oleh ketidak percayaan, utamanya mengatakan bahwa " saat ini rakyat dibuat bingung, saat ini rasa keadilan masyarakat tidak bisa menerima hal-hal yang kemungkinan sangat mengandung ketidakbenaran,dan ketidak percayaan ini jika tidak ditangani dengan baik, akan menjadi bola salju yang liar". Menurut hemat saya, sudut pandang yang berbeda-beda tetap perlu mendapat perhatian, sebab semua itu adalah ilmu yang bermanfaat yang mampu memprediksi suatu situasi yang sejauh ini telah terbukti secara nyata dan ilmiah. Artinya bahwa sejarah dan fakta membuktikan pernah ada negara yang runtuh disebabkan keterlambatan dalam mengatasi masalah.

Dari semua apa yang terjadi , yang penting menurut saya adalah, ternyata saya sampai pada suatu pemikiran, bahwa Manusia sejatinya membutuhkan apa yang disebut dengan kebenaran hakiki, dan kepastian hakiki. Ilmu adalah sebuah kebenaran pada ruang lingkup , waktu dan tempatnya. Ilmu juga sebuah kepastian yang berada pada ruang lingkup, waktu dan tempatnya. Tetapi manusia membutuhkan kepastian dalam kebenaran yang hakiki, yang hanya dimiliki oleh Allah swt. Ilmu Alam membutuhkan kepastian bahwa matahari terbit dari timur, dan beredar pada porosnya, sungai dan laut tidak tumpah, selama alam ini masih terbentang. Ilmu Alam membutuhkan kebenaran, matahari terbit dari timur, dan tenggelam di barat. Ilmu sosial membutuhkan kepastian bahwa manusia mati, dan butuh kebenaran, bahwa manusia berasal dari segumpal darah. Tanpa kebenaran yang pasti, manusia tak tahu harus berbuat apa. Tanpa bimbingan Allah swt, manusia tak tahu harus berbuat apa. Tanpa bimbingan Allah swt manusia akan kehilangan kebaikan.

Oleh sebab itu , Ilmu (akal) harus bersanding dengan Iman ( qalbu ) , agar amal ( pekerjaan ) sesuai dengan kepastian kebenaran. Waawlohualam'bisawab.

No comments: